Labels

Jumat, 27 November 2015

Prabu Cilik

Anak anak selalu senang kalau diajak berpartisipasi. Termasuk‪#‎GerakanPungutSampah‬ . Walaupun tidak sampai beres dan diselingi jajan atau bermain. Tapi setidaknya mereka sudah mengerti bahwa membuang sampah ya ditempat sampah. Pasti akan mereka ingat sampai dewasa.‪

Windy P

Sabtu, 21 November 2015

Kebaikan Apa yang Sudah Kamu Berikan?

Sore itu kira-kira pukul 17.00 di bulan Ramadhan 1436 H atau bulan Juli tahun 2015 lalu tepatnya. Saya dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, dari terusan jalan Jakarta menuju daerah Ujungberung, Bandung.

Seperti hari-hari biasa, setiap pulang kerja selalu ditemani arus lalu lintas yang padat. Ketika saya memasuki daerah Arcamanik, saya melewati seorang bapak yang sedang mendorong motornya, tapi tiba-tiba seorang anak muda yang sedang lewat mendekatinya.

Saya pelankan laju motor saya sepelan mungkin dan melihat mereka dari spion kiri. Sepertinya anak muda tersebut menawarkan bantuan kepada si bapak. Mungkin si bapak itu kehabisan bensin, atau ban motornya bocor, atau motornya rusak.

Mungkin juga si bapak dan si pemuda tersebut saling kenal. Saya tidak tahu pasti. Walaupun saya sudah memperlambat laju motor, tapi tetap saja mereka hilang dari pandangan spion kiri saya.

Hari semakin sore dan semakin dekat juga dengan waktu berbuka puasa. Orang-orang berlomba mengejar waktu agar dapat berbuka puasa dengan keluarga di rumah, termasuk saya. Tapi sengebut-ngebutnya saya saat jam pulang kantor di bulan Ramadhan tetap saja tidak bisa lebih dari 30 km/jam. "Ah ya sudahlah, santai saja," pikir saya.

Saat itu saya sudah berada di Jalan Cisaranten Kulon. Tiba-tiba dari arah kanan seseorang mendahului saya. Ternyata yang mendahului saya itu adalah si bapak tadi yang motornya sedang didorong oleh si pemuda memakai kakinya atau biasanya orang Bandung menyebutnya "di-setep".

Jadi, di-setep itu mendorong motor mogok atau kehabisan bensin menggunakan kaki kiri si pengendara motor lainnya dari belakang. Biasanya kaki kiri si pengendara belakang menempel ke bagian knalpot motor pengendara yang ada di depannya.

Saya pikir, baik sekali si pemuda ini mengingat jarak dari Arcamanik ke Jalan Cisaranten Kulon tidak dekat, sekitar 3 km. Ditambah lagi dengan banyaknya polisi tidur yang tinggi-tinggi. Pandangan saya tidak lepas dari mereka berdua. Saya ingin tahu si pemuda tersebut membantu si bapak sampai ke mana. Walau lalu lintas padat saya berusaha mengejar mereka tetapi tetap saja mereka kabur dari pandangan saya.

Saya lupakan lagi tentang si bapak dan si pemuda itu. Sampai di perempatan Jalan Rumah Sakit, saya belokkan motor ke pom bensin karena indikator bahan bakar sudah mencapai garis E. Betapa terkejutnya saya, karena orang yang antre di depan saya adalah si pemuda yang menyetep motor si bapak tadi. Saya lihat lebih dekat si pemuda itu, kelihatannya masih mahasiswa. Terlintas wajah adik saya saat itu juga.

Tidak jauh dari saya mengantre, terlihat si bapak yang tadi dibantu oleh si pemuda sedang memarkirkan motornya sambil menunggu. Mungkin si pemuda anaknya, pikir saya. Atau mungkin juga si pemuda dan si bapak saling mengenal. Dengan wajah semringah dan sedikit lelah si bapak menghampiri si pemuda yang motornya sedang diisi bensin sambil berkata,

"Duh, nuhun pisan ya, dek. Kebayang kalau gak ada adek. Rumahnya dekat sini kan? Ini yaa." Belum sempat si pemuda menjawab pertanyaan, si bapak tiba-tiba memberikan uang ke si pemuda, tapi si pemuda menolak. Si bapak tetap memberinya uang, dia selipkan di bagasi motor si pemuda. Si pemuda tampak canggung karena semua orang melihat ke arahnya.

Dengan cepat si bapak kembali ke motornya dan pergi meninggalkan pom bensin. Si pemuda masih terlihat canggung. Apa yang menarik? ternyata di zaman sekarang masih ada orang baik seperti si pemuda itu. Apalagi di jam-jam chaos pulang kerja seperti tadi, karena yang ada di pikiran semua orang adalah dapat berbuka puasa di rumah bersama keluarga.

Saya sedikit menyesal karena kurang peka dengan lingkungan sosial, contohnya seperti tadi. Saya hanya melihat dan melewati si bapak tanpa membantunya. Saya masih ingat raut wajah bahagia si bapak ketika ada yang membantunya. Saya yakin juga bahwa dalam diri si pemuda ada perasaan puas dan bahagia karena telah membantu orang lain, apalagi di bulan Ramadhan ketika setiap apa yang dilakukan akan mendapat pahala.

Bukankah menebar kebaikan itu menyenangkan? Ada rasa kepuasaan tersendiri ketika saling memberikan kebaikan. Jadi, teruslah berbagi kebaikan kepada semua orang. Sudahkah Anda memberikan kebaikan hari ini?


Kamis, 19 November 2015

#GerakanPungutSampah Komunitas Galur Bandung

Bukan hal aneh ketika kami menemukan beberapa bungkus obat warung dan beberapa botol minuman keras.
Pagi itu sinar matahari sudah menyapa hari namun membuat orang malas beranjak dari tempat tidur karena pagi itu hari Minggu. Akan tetapi, hari Minggu menjadi hari yang paling ditunggu oleh saya dan teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Galur Bandung. Setiap hari Minggu pagi kami melakukan kegiatan di Alun-alun Ujungberung yaitu #Gera
kanPungutSampah, salah satu program pemerintah kota yang sedang booming di Bandung. Kami masih menunggu satu personil lagi yang biasanya membawa serta pasukan ciliknya. Walaupun saat itu banyak orang tapi tidaklah sulit melihat keberadaan kami karena kaos hijau terang yang dipakai oleh kami sebagai atribut komunitas. Tidak lama seorang pria yang sudah kami tunggu datang dari arah gerbang masuk sambil diikuti oleh dua orang anaknya.
“Maaf nunggu lama. Biasa anak-anak mah suka susah bangunnya” sapa seorang pria tadi yang biasa dipanggil Kang Ade.
Saya mulai mengeluarkan isi dari dalam tas yang berisi beberapa sarung tangan dan beberapa kantong plastik ukuran besar bekas belanjaan dari supermarket sebagai perlengkapan kali ini. Biasanya kami memakai kantong sampah hitam ukuran sedang, tetapi karena persediaan habis jadi saya mengambil beberapa keresek dari rumah. Karena rumah saya dekat dengan Alun-alun Ujungberung jadi semua perlengkapan #GPS harus dibawa oleh saya.
Ketika semua sudah siap memakai sarung tangan dan memegang kantong plastik besar tanpa basa-basi lagi saya dan teman mulai memunguti sampah yang berserakan di daerah lantai berkeramik warna-warni. Sedangkan Kang Ade dan pasukan ciliknya mulai memungut sampah di bagian lantai keramik warna-warni dekat gerbang masuk utama. Teman saya yang lain, Diki berjalan ke bagian Ampiteater.
Saat ini kami masih melakukan kegiatan #GerakanPungutSampah di Alun-Alun Ujungberung yang terletak di Bandung bagian timur. Salah satu alasan kami melakukan #GerakanPungutSampah di Alun-Alun Ujungberung karena mayoritas dari kami berdomisili di Bandung bagian timur. Selain itu juga kami ingin seluruh masyarakat Bandung timur untuk menjaga kebersihan ruang publik utama mereka, yaitu Alun-Alun Ujungberung.
Saat #GerakanPungutSampah kami membagi Alun-alun Ujungberung menjadi lima bagian. Bagian pertama yaitu lantai warna-warni dekat gerbang masuk sebelah barat, tepatnya tempat kami berkumpul tadi. Bagian kedua yaitu undakan tangga sekaligus tempat duduk yang bersebrangan dengan Kantor Kecamatan Ujungberung. Bagian ketiga yaitu Ampiteater. Bagian keempat yaitu arena bermain anak dan taman batu refleksi. Bagian terakhir yaitu lantai keramik warna-warni dekat gerbang utama. 
Saat itu jumlah kami delapan orang. Lima orang dewasa dan tiga orang anak kecil. Luas Alun-alun Ujungberung lebih kecil dari Alun-alun Bandung tetapi sampah-sampah yang berserakan disini banyak sekali. Walaupun jumlah personil sedikit tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk terus memunguti sampah yang mengganggu keindahan dan kenyamanan  Alun-Alun Ujungberung.
Bagian lantai warna-warni sudah bersih, selanjutnya saya dan teman ke bagian undakan tangga. Tidak sedikit sampah yang kami punguti disini karena bagian ini paling teduh dan paling sering dijadikan tempat berkumpul. Walaupun sudah disediakan tempat sampah entah kenapa masih saja banyak sampah dimana-mana. Apakah tempat sampahnya harus dibuat lebih besar agar terlihat?
Sinar matahari semakin tinggi dan Alun-Alun Ujungberung semakin ramai didatangi pengunjung. Ada yang senam, olahraga, bermain egrang, atau sekedar mengobrol. Akan tetapi belum ada yang tergerak ikut memungut sampah dengan kami padahal sampah yang berserakan masih banyak.
Sampailah saya di bagian Ampiteater. Saya bertemu dengan Diki yang masih memunguti  sampah di sela-sela tanaman. Bagian Ampiteater adalah bagian yang paling banyak sampah. Sampah bungkus makanan, minuman, bungkus rokok dan, puntung rokok dan kulit kacang yang berceceran dimana-mana. Untuk di bagian ini kami bukan lagi memunguti sampah satu persatu tapi harus membersihkannya. Mungkin suatu hari nanti barang perlengkapan kami harus ditambah dengan beberapa buah sapu. Selain itu bukan hal yang mengejutkan untuk kami ketika menemukan beberapa bungkus obat warung dan obat batuk sachet dengan jumlah yang banyak. Beberapa minggu yang lalu pun kami pernah menemukan beberapa botol bekas minuman keras di Ampiteater. Padahal saat itu banyak warga yang melakukan kegiatan di Ampiteater bersama keluarganya. Apakah pantas jika beberapa botol bekas minuman keras tergeletak begitu saja di ruang publik yang banyak dikunjungi warga dari berbagai kalangan? Padahal lokasi Alun-Alun Ujungberung tepat bersebrangan dengan Kantor Kecamatan Ujungberung.
Matahari semakin tinggi tepatnya pukul 08.00 tapi sinarnya begitu menyengat. Selesai di bagian Ampiteater kami melanjutkan ke bagian arena bermain anak dan taman batu refleksi. Di bagian ini pun tidak berbeda dengan bagian lainnya, banyak sampah yang disimpan di sela-sela tanaman. Padahal jelas-jelas terlihat ada sepasang tempat sampah di dekat sini.
#GerakanPungutSampah kali ini kami mendapatkan beberapa kantong keresek besar dengan isi yang penuh dengan sampah plastik bekas bungkus makanan, gelas plastik bekas dan jumlah puntung rokok yang tak bisa kami hitung karena saking banyaknya. Saat ini kami belum bisa memilah-milah sampah plastik karena masih terbatasnya jumlah personil. Jadi kami hanya menumpuk kantong-kantong tersebut di dekat tempat sampah yang nantinya akan diambl oleh pihak Kebersihan.
Saya masih belum mengerti kenapa beberapa orang belum memiliki kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya. Saya kagum ketika Kang Ade membawa serta dua anaknya untuk ikut kegiatan ini walaupun #GPS nya hanya sebentar. Setidaknya mulai mengenalkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Oleh karena itu, Komunitas Galur Bandung akan selalu mengajak masyarakat agar turut menjaga kebersihan dan kenyamanan Alun-alun Ujungberung. Kami tidak dapat memberi apa-apa untuk Bandung lalu kenapa tidak turut serta dalam menjaganya?

-WPCR



 
 
Blogger Templates